Showing posts with label Introspeksi. Show all posts
Showing posts with label Introspeksi. Show all posts

Friday, March 27, 2009

Nafsu Ingin Menjadi Pemimpin

Dr. Daud Rasyid
“Kalian akan berebut untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal kekuasaan itu adalah penyesalan di hari Kiamat, nikmat di awal dan pahit di ujung. (Riwayat Imam Bukhori).

Perbedaan zaman Salafus-sholeh yang paling kentara dengan zaman sekarang, salah satunya dalam ambisi kepemimpinan. Dulu, khususnya zaman sahabat, mereka saling bertolak-tolakan untuk menjadi pemimpin.

Abu Bakar Shiddiq diriwayatkan, sebelum diminta menjadi Khalifah menggantikan Rasulullah mengusulkan agar Umar yang menjadi Khalifah. Alasan beliau karena Umar adalah seorang yang kuat.

Tetapi Umar menolak, dengan mengatakan, kekuatanku akan berfungsi dengan keutamaan yang ada padamu. Lalu Umar membai’ah Abu Bakar dan diikuti oleh sahabat-sahabat lain dari Muhajirin dan Anshor.

Dari dialog ini dapat kita pahami bahwa generasi awal Islam, yang terbaik itu, memandang jabatan seperti momok yang menakutkan. Mereka berusaha untuk menghindarinya selama masih mungkin. Tapi di zaman ini, keadaannya sudah berubah jauh.

Orang saling berlomba untuk menjadi pemimpin. Jabatan sudah menjadi tujuan hidup orang banyak. Semua tokoh yang sedang bertarung mengatakan, jika diminta oleh rakyat, saya siap maju. Inilah basa basi mereka. Entah rakyat mana yang meminta dia maju jadi pemimpin. Sebuah kedustaan yang dipakai untuk menutupi ambisi menjadi pemimpin.

Keberatan para Sahabat dulu untuk menjadi pemimpin, dikarenakan mereka mengetahui konsekuensi dan resiko menjadi pemimpin. Mereka mendengar hadits-hadits Nabi Saw tentang tanggung jawab pemimpin di dunia dan di akhirat. "Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya. Imam (kepala negara) adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya atas kepemimpinannya...".

Dalam hadits yang lain Nabi Muhammad Saw memprediksi hiruk pikuk di akhir zaman soal kekuasaan dan menjelaskan hakikat dari kekuasaan itu. Beliau bersabda seperti dilaporkan oleh Abu Hurairah :

“Kalian akan berebut untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal kekuasaan itu adalah penyesalan di hari Kiamat, nikmat di awal dan pahit di ujung. (Riwayat Imam Bukhori).

Juga Rasulullah Saw memperingatkan mereka yang sedang berkuasa yang lari dari tugas dan tanggung jawabnya sebagai pelayan rakyat dan tidak bekerja untuk kepentingan rakyatnya, dengan sabda beliau : “Siapa yang diberikan Allah kekuasaan mengurus urusan kaum Muslimin, kemudian ia tidak melayani mereka dan keperluan mereka, maka Allah tidak akan memenuhi kebutuhannya.” (Riwayat Abu Daud).

Dan dalam riwayat at-Tirmizi disebutkan : “Tidak ada seorang pemimpin yang menutup pintunya dari orang-orang yang memerlukannya dan orang fakir miskin, melainkan Allah juga akan menutup pintu langit dari kebutuhannya dan kemiskinannya.”

Hadits-hadits yang ada lebih banyak menggambarkan pahitnya menjadi pemimpin ketimbang manisnya. Sedang mereka adalah generasi yang lebih mengutamakan kesenangan ukhrowi daripada kenikmatan duniawi. Itulah yang dapat ditangkap dari keberatan mereka.

Sementara orang yang hidup di zaman ini berfikir terbalik. Yang mereka kejar adalah kesenangan duniawi yang didapat melalui jabatan dan kekuasaan. Mereka lupa dengan pertanggung jawaban di hari Kiamat itu. Mereka tidak segan-segan bermanuver dan merekayasa untuk mendapatkan jabatan dan kekuasaan itu.

Kadangkala cara yang dipakai sudah hampir sama dengan cara kaum kuffar atau kaum sekuler, menghancurkan nilai-nilai akhlak Islam yang sangat fundamental; mencari dan mengumpulkan kelemahan lawan politik dan pada waktunya aib-aib itu dibeberkan untuk mengganjal jalan kompetitornya.

Ada pula yang mengumpulkan dana dengan cara-cara yang tak pantas dan tak bermoral. Mendukung calon kepala daerah dalam pilkada dari partai mana saja, asal dengan imbalan materi dengan menyerahkan uang yang besar. Terserah orang itu menang atau kalah nanti, tak begitu penting, yang penting uangnya sudah didapat.

Para pemburu kekuasaan itu beralasan, jika kepemimpinan itu tidak direbut, maka ia akan dipegang oleh orang-orang Fasik dan tangan tak Amanah, yang akan menyebarkan kemungkaran dan maksiat. Tapi jika ia dipegang oleh orang soleh dan beriman, akan dapat mewujudkan kemaslahatan bagi masyarakat luas. Alasan ini memang indah kedengaran.

Namun kenyataannya, semua yang berebut jabatan mengklaim bahwa ia lebih baik dari yang sedang memimpin. Dan tidak ada yang dapat memberi jaminan bahwa jika ia memimpin, keadaan akan menjadi lebih baik.

Bahkan rata-rata orang pandai berteriak sebelum menjadi pemimpin, tetapi setelah masuk ke dalam sistem, mereka tak bisa berbuat banyak. Akhirnya mengikuti gaya orang sekuler. Yang mencoba bertahan dengan idealisme, mendapat serangan dan kecaman dari berbagai pihak, lalu akhirnya menyerah kepada keadaan.

Berapa banyak mantan aktifis mahasiswa yang sebelumnya kritis dan berdemo menentang rezim masa lalu, tetapi sesudah masuk ke dalam sistem, tidak bisa merubah apa-apa, bahkan menggunakan cara-cara yang dipakai oleh rezim sebelumnya, memanfaatkan jabatan untuk menimbun uang dan kekayaan.

Kemudian merekapun menyiapkan alasan-alasan pembelaan; antara lain, merubah sesuatu tak bisa sekejap mata, tetapi harus bertahap, menilai sesuatu tak boleh hitam-putih, apa yang ada sekarang sudah lebih baik dari masa sebelumnya.

Keadaan seperti ini semakin memperkuat keyakinan sebagian orang, bahwa memperbaiki sistem tidak harus masuk terjun ke dalam sistem itu. Bahkan tak mungkin melakukan perubahan selama kita ada di dalam. Sebuah logika terbalik dari slogan yang digembar gemborkan pihak lain, yang kalau mau merubah sistem, harus terjun ke dalam sistem itu. Ternyata kebanyakan yang pernah terjun ke dalam sistem, tidak mampu merubah kerusakan yang ada. Bukan sekedar tak mampu membersihkan, justru ikut terkena kotoran.

Memang ada sebagian yang masuk ke dalam sistem dengan cara yang sah, lalu berjuang di dalamnya dengan penuh resiko, mencoba melakukan perubahan dan bertahan dengan prinsip-prinsip yang dipegangnya. Mereka ini biasanya kalau tak tersingkir, dimusuhi atau makan hati.

Gerakan Islam sebenarnya lebih besar dari sekadar Partai Politik yang dibatasi oleh aturan-aturan formal, aturan main, dan bahkan ideologi kebangsaan. Gerakan Islam berjuang untuk jangka waktu yang tak terbatas, hingga Islam itu tegak berdiri dengan kokoh. Lingkup kerjanya juga tidak hanya menyangkut soal-soal politik.

Ketika gerakan Islam menjadi partai politik, sebenarnya ia sedang dipasung dan dihadapkan pada agenda kacangan yang didiktekan kepadanya yang bukan menjadi agenda utamanya. Bahkan kesibukannya mengurusi soal-soal politik hanyalah pembelokan dari target utama dan juga pemborosan energi yang tak setimpal dengan hasil yang dicapainya. Ibarat membayar dengan harga emas untuk membeli besi.

Betapa sayangnya seorang yang sudah tiga puluh tahun malang melintang dalam gerakan Islam, ujung-ujungnya hanya menjadi tukang lobi kesana-kemari untuk memperjuangkan kursi alias kekuasaan. Sungguh menyedihkan. Yang diperjuangkan oleh gerakan Islam adalah sebuah agenda besar yang mendunia (Ustaziyyatul ‘Alam), bukan agenda lokal dan sektor sempit dan terbatas.

Lalu di sini mungkin pertanyaan akan muncul, apakah urusan lokal yang berujung pada kemaslahtan ummat Islam itu diabaikan? Jawabannya jelas tidak. Akan tetapi biarlah masalah-masalah lokal dan sektoral itu diurusi oleh anak-anak ummat yang mempunyai kualitas lokal.

Adapun gerakan Islam yang sudah mendunia haruslah bekerja sesuai dengan kapasitasnya. Tak pantas pemuda-pemuda gerakan diminta mengurus pilkada, pemilu, menempel-nempel poster, apalagi bertarung dengan orang-orang yang tak sekapasitas dengannya.

Gerakan Islam sekali lagi harusnya mengurusi hal-hal yang lebih besar, lebih strategis, yakni pembinaan ummat, membangun generasi intelek dan beriman, mengarahkan pemikiran ummat kepada cara berpikir yang Islami setelah mengalami degradasi. Anak-anak gerakan yang tak naik kelas bolehlah dipersilahkan terjun ke dunia politik praktis. Karena sampai di situlah mungkin batas kemampuannya.

Ada hikmahnya kenapa Allah swt tidak mengizinkan gerakan Islam di negeri induknya berkecimpung dalam politik praktis secara besar-besaran. Karena hal itu akan membuat mereka lalai dari perjuangan utama. Target utamanya bukan untuk mendapat kursi Perdana Menteri, atau bahkan Presiden sekalipun, tetapi untuk menjadi qiyadah fikriyah bagi pergerakan Islam sedunia.

Andaikan peluang lokal itu terbuka, niscaya mereka akan sibuk dengan masalah-masalah parsial di lapangan sementara tugas mereka jauh lebih kompleks dari membenahi sebuah negara yang masyarakatnya sudah rusak secara ideologis, moral dan perasaan.

Tugas Gerakan Islam lebih besar dari membersihkan korupsi, ketimpangan ekonomi, ketidak merataan pembangunan. Tugas mereka adalah mengembalikan penyembahan kepada Allah setelah mengalami degradasi dengan menuhankan manusia dan Tuhan-tuhan lainnya. (Ikhrojun Naas min Ibadatil Ibad ilaa Ibadatil Robbil Ibaad).


Thursday, March 27, 2008

Rekayasa Riya'

Kita seringkali terpesona oleh penampakkan-penampakkan lahiriah yang ditangkap oleh mata kita. Begitu pula jika kita ingin mempengaruhi orang lain, kita selalu merekayasa penampilan atau penampakkan lahiriah kita. Yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah upaya manusia untuk mengatur penampakkan lahiriahnya supaya dinilai orang lain bahwa ia adalah orang alim atau orang saleh yang dekat kepada Allah swt.Meskipun hal itu masalah hati nurani, kita dapat dengan mudah mengidentifikasi orang yang Riya. Ciri orang Riya adalah ia punya dua wajah; wajah publik dan wajah privat. Wajah publik adalah penampilan yang ia tampakkan di hadapan umum sedangkan wajah privat adalah penampilan yang ia tampakkan di lingkungan yang terbatas. Bila ia salat di depan orang banyak (di hadapan publik), salatnya amat rajin sementara ketika ia salat sendirian (di lingkungan privat), salatnya menjadi malas. Contoh lain adalah seseorang yang selalu melakukan salat sunat di masjid tetapi selalu meninggalkannya ketika ia di rumah. Orang tersebut akan menambah amalnya bila di hadapan orang banyak dan mengurangi amalnya bila ia sendirian. Ketika di hadapan orang banyak, ia akan sangat memperhatikan waktu salat sementara di rumahnya, ia jarang salat tepat waktu.

Upaya rekayasa itu di dalam Islam disebut dengan Riya. Riya berasal dari kata ra'a yang berarti melihat. Secara harfiah, Riya ber-arti mengatur sesuatu agar dapat dilihat oleh orang lain. Riya adalah mengatur perilaku kita agar dilihat oleh orang lain dan tujuan akhirnya, agar orang lain itu akan menyimpulkan bahwa kita ini orang saleh. Bagaimana bila kita meng-atur penampakkan (appearance) kita bukan untuk dinilai sebagai orang saleh melainkan agar dinilai sebagai orang kaya? Hal itu tidak disebut Riya karena yang ingin kita ciptakan bukan citra orang saleh melainkan citra orang kaya. Hal itu tidak apa-apa bila tidak dilakukan secara berlebihan. Mengatur penampilan kita dalam sebuah wawancara kerja, supaya kita diterima, tentu saja tidak merupakan suatu dosa.

Suatu hari Rasulullah saw berangkat bersama Aisyah untuk mengunjungi sahabat-nya. Mereka tiba di suatu sumur. Rasulullah saw bercermin kepada air sumur itu dan memperbaiki serbannya kemudian menyisir rambutnya. Aisyah, seperti biasa, sangat pen-cemburu. Ia bertanya, "Mengapa kau lakukan itu, Ya Rasulullah?" Rasulullah saw menjawab, "Allah swt senang kepada seorang manusia yang bila ia bertemu dengan sahabat-sahabat-nya, ia menampakkan penampilan yang sebaik-baiknya." Bila kita kedatangan tamu atau bila kita akan bertamu, kita harus memakai pakaian kita yang paling bagus dan memperbaiki penampilan kita. Hal itu merupakan sunnah Rasulullah saw. Mengatur penampilan seperti itu tidak merupakan Riya.

Riya hanya berlaku di dalam ibadat. Di luar itu tidak kita sebut dengan Riya. Kita tidak boleh melakukan Riya walaupun sedikit. Rasulullah saw bersabda, "Ketahuilah bahwa Riya itu haram dan orang yang Riya itu dimurkai Allah swt."

Al-Quran surat Al-Ma'un ayat 4-6 mengecam orang-orang yang Riya di dalam salatnya: Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat riya. Di dalam Al-Quran, Tuhan selalu memuji orang-orang yang salat, kecuali dalam surat Al-Ma'un. Dalam ayat lainnya, yaitu ayat 10 surat Fathir, Allah ber-firman: Dan orang-orang yang melakukan makar, bagi mereka azab yang pedih, dan makar mereka pasti tidak akan beruntung. Al-Quran menyebut orang yang melakukan Riya di dalam ibadatnya sebagai orang yang sedang melaku-kan makar kepada Tuhan. Mereka menipu Tuhan; seakan-akan mereka beribadat kepada Tuhan padahal mereka beribadat kepada manusia. Itulah makar yang paling besar. Mereka melakukan tipuan kepada Allah dan kaum beriman padahal sebetulnya mereka menipu diri sendiri hanya mereka tidak menyadarinya saja.

Lawan dari Riya adalah ikhlas. Ikhlas ialah membantu orang lain karena Allah dan tidak mengharap balasan serta terima kasih. Sementara Riya ialah membantu orang lain karena mengharap akan balasan atau paling tidak ucapan terima kasih. Kadang-kadang kita tidak mengetahui bahwa yang kita lakukan adalah Riya. Ketika kita mengetahuinya bahwa orang lain, yang telah kita tolong, malah berbuat jelek terhadap kita, kita sering memutuskan untuk tidak lagi menolongnya. Itu pertanda bahwa kita menolong karena mengharapkan balasan. Orang yang betul-betul ikhlas tidak akan memperhitungkan apakah orang yang ditolong akan membalas atau berterimakasih. Meskipun demikian, kita harus mendidik orang agar selalu berterima kasih. Orang yang tidak bisa berterima kasih tidak akan pernah bahagia di dalam hidupnya. Ia akan menderita gang-guan psikologis. Orang yang bahagia adalah orang yang penuh dengan rasa terima kasih kepada orang-orang di sekitarnya.

Sebuah hadis yang diriwayatkan dari Imam Jakfar Al-Shadiq as meriwayatkan Rasulullah saw bersabda, "Akan datang kepada manusia satu zaman ketika orang itu buruk secara batiniah tetapi secara lahiriah mereka tampakkan kebaikannya. Mereka mengharap-kan dunia dan tidak mengharapkan apa yang berasal dari Tuhan mereka. Agama mereka adalah Riya yang tidak disertai rasa takut. Allah akan menimpakan kepada mereka siksa, yang sekiranya mereka berdoa dengan doa seperti orang yang akan tenggelam, Tuhan tidak akan mengijabah doa mereka."

Doa orang yang beramal dengan Riya tidak akan diijabah Tuhan. Yang paling berat, orang yang melakukan Riya akan kehilangan seluruh amalnya di hari kiamat nanti. Pada hari kiamat, orang yang Riya akan dipanggil Allah dengan empat gelaran, "Yâ ghâdir, yâ fâjir, yâ khâsyir, yâ fâsiq. Hai si penipu, si durhaka, si perugi, si fasik!"

Sayidina Ali kw berkata, "Ada tiga tanda orang yang Riya. Dia sangat rajin beribadat bila ada orang yang melihatnya, dia malas bila sendirian, dan dia sangat senang jika dipuji dalam urusannya."

Kiat Melakukan Riya

Berikut ini akan ditunjukkan kiat-kiat untuk melakukan Riya. Hal ini dilakukan untuk mendiagnosa diri kita apakah telah jatuh ke dalam Riya atau tidak. Menurut Al-Ghazali, Riya dilakukan dengan menggunakan lima hal. Pertama, dengan menggunakan tubuh kita. Kita bisa menampakkan kesalehan dengan mereka-yasa tubuh kita. Al-Ghazali mencontohkan tubuh orang yang dikuruskan untuk menun-jukkan bahwa orang itu berpuasa setiap hari, atau orang yang menampakkan bekas sujud di dahinya (yang ia buat dengan menggosok-gosokkan dahinya ke tempat sujud) untuk menampakkan ketekunan dalam beribadat. Tentu saja, tidak semua orang yang kurus tubuhnya dan ada bekas di dahinya adalah orang yang Riya. Contoh lain adalah orang yang sengaja menggetarkan tubuhnya ketika shalat untuk menunjukkan betapa khusyunya orang itu dalam shalatnya.

Kedua, yang dipakai sebagai alat untuk Riya adalah pakaian atau penampilan lahiriah. Misalnya, di zaman dahulu orang memakai pakaian yang compang-camping untuk menunjukkan bahwa dia adalah seorang sufi. Pakaian yang ia pakai terbuat dari kain kasar untuk menunjukkan hidupnya yang sederhana. Bahkan ada orang yang dengan sengaja mengusutkan rambutnya dan menyimpan tanah di atasnya. Ia melakukan hal ini karena ia pernah mendengar sebuah hadis yang meriwayatkan Rasulullah saw ketika memasuki masjid dan menemukan orang yang rambutnya kusut dan tertutup debu. (Pada waktu itu, masjid Nabi tidak beratap sehingga orang yang banyak beribadat di masjid, rambutnya akan tertutupi debu yang terbawa angin padang pasir.) Melihat orang itu, Rasulullah saw bersabda, "Ada orang yang rambutnya kusut masai dan tertutup debu. Sekiranya dia berdoa, Tuhan akan mengijabah doanya." Tanda untuk menampakkan kesalehan yang lain adalah dengan memakai serban, membawa tasbih, dan memakai baju khusus. Sekali lagi, tidak semua orang yang memakai pakaian seperti itu adalah orang yang Riya.

Ketiga,Riya dilakukan dengan ucapan atau perkataan. Ada orang yang mengatur pembicaraannya supaya ia dikenal orang sebagai santri. Ia selalu mengutip ayat-ayat Al-Quran dan hadis Nabi. Ia tampakkan kesalehan itu dengan mengeluarkan kata-kata suci dari bibirnya.

Keempat,orang melakukan Riya dengan perbuatan atau perilaku. Misalnya orang yang salat dengan memanjangkan ruku dan sujudnya untuk menampakkan kekhusyuan. Ketika ia mengimami orang banyak, ia baca surat yang panjang sementara ketika ia salat sendirian, ia baca surat yang pendek. Ia meng-hapalkan surat-surat yang panjang hanya untuk dipertunjukkan kepada orang lain. Amal itu ia pergunakan untuk menimbulkan kesan kesalehan. Menampakkan kesalehan melalui ibadat-ibadat ritual adalah hal yang mudah. Tapi bila Riya itu ditampakkan melalui sedekah atau membantu orang lain adalah hal yang sulit, karena hal itu memerlukan pengorbanan.

Kelima, orang melakukan Riya dengan menunjukkan kawan-kawannya atau orang-orang saleh yang ia kenal. Di dalam Psikologi Sosial ada yang dinamakan dengan Gilt by Association, artinya 'cemerlang' karena hubungan baik. Maksudnya, agar seseorang dikenal sebagai orang yang hebat atau orang yang mulia, ia ceritakan sahabat-sahabatnya. Ia suka menceritakan hubungannya dengan orang-orang yang terkenal.

Satu hal yang penting, tidak semua perbuatan kita untuk mengatur perilaku kita adalah Riya. Bila kita atur penampakkan lahiriah kita untuk, misalnya, memberikan contoh yang baik kepada orang lain; supaya orang lain mengikuti teladan kita, maka hal itu bukanlah Riya. Riya tidak diukur dari kelihatan atau tidaknya sebuah amal tapi diukur dari tujuan amal itu dilakukan.

Riya jangan digunakan untuk menilai orang lain tapi gunakan untuk menilai diri sendiri.

Riya dan Hubbul Jaah

Kalau kita merekayasa perilaku kita dengan maksud agar orang lain menganggap kita orang terhormat, pintar, atau kaya, hal itu tidak disebut dengan Riya. Perilaku seperti itu, bila sedikit dilakukan, tidak apa-apa. Tetapi bila dilakukan berlebihan, maka hal itu disebut hubbul jâh, kecintaan kepada penghormatan. Itu merupakan dosa.

Orang yang jatuh kepada hubbul jâh selalu ingin agar dirinya diperlakukan istimewa. Berikut salah satu contoh di antaranya: Apabila seseorang berusaha menampilkan dirinya begitu rupa sehingga orang menilainya sebagai eksekutif yang berkelas (misalnya dengan memakai pakaian mahal yang didesain khusus dan parfum dari luar negeri, yang ia beli bukan atas alasan praktis melainkan alasan gengsi), maka ia tidak memiliki penyakit Riya melainkan penyakit hubbul jâh, kecintaan akan peng-hormatan.

Seorang muslim terlarang untuk ber-usaha mencari penghormatan dari manusia. Dia harus berusaha mencari penghormatan dari Allah swt. Kalau perlu, dia rela menanggung kemarahan dari makhluk, asalkan mendapat rida dari khalik. Orang yang menderita hubbul jâh, malah bersedia menanggung resiko dibenci Tuhan asal disukai orang banyak.

Seorang Riya mengatur perilakunya dalam ibadat untuk mendekatkan diri kepada Allah swt dengan maksud agar orang menilai dirinya sebagai orang saleh yang taat beragama dan berpegang teguh kepada Al-Quran dan hadis Nabi. Orang seperti ini tidak ingin disebut sebagai orang yang hebat, berkedudukan tinggi, berpangkat, atau orang yang kaya. Dia hanya ingin dinilai orang sebagai orang yang saleh. Untuk itu dia merekayasa perilakunya.
Perbedaan Riya dengan yang bukan Riya adalah amat tipis. Semua itu terpulang kepada hati nurani masing-masing. Ada orang yang berusaha memakai busana muslim misalnya peci, untuk menunjukkan bahwa dia orang alim tapi ada juga orang yang memakai peci, untuk menutupi rambutnya yang menipis.

KEBER-AGAMA-AN SEJATI

Kh. Jalaluddin Rakhmat


Dalam Kitab Matsnawi, Jalaluddin Rumi bercerita: Dahulu, ada seorang muadzin bersuara jelek di sebuah negeri kafir. Ia memanggil orang untuk shalat. Banyak orang memberi nasihat kepadanya: "Janganlah kamu memanggil orang untuk shalat. Kita tinggal di negeri yang mayoritas bukan beragama Islam. Bukan tidak mungkin suara kamu akan menyebabkan terjadinya kerusuhan dan pertengkaran antara kita dengan orang-orang kafir." Tetapi muadzin itu menolak nasihat banyak orang. Ia merasa bahagia dengan melantunkan adzannya yang tidak bagus itu di negeri orang kafir. Ia merasa mendapat kehormatan untuk memanggil shalat di satu negeri di mana orang tak pernah shalat.

Sementara orang-orang Islam mengkuatirkan dampak adzan dia yang kurang baik, seorang kafir datang kepada mereka suatu pagi. Dia membawa jubah, lilin, dan manis-manisan. Orang kafir itu mendatangi jemaah kaum muslimin dengan sikap yang bersahabat. Berulang-ulang dia bertanya, "Katakan kepadaku di mana Sang Muadzin itu? Tunjukan padaku siapa dia, Muadzin yang suaranya dan teriakannya selalu menambah kebahagiaan hatiku?" "Kebahagiaan apa yang kau peroleh dari suara muadzin yang jelek itu?" seorang muslim bertanya.

Lalu orang kafir itu bercerita, "Suara muadzin itu menembus ke gereja, tempat kami tinggal. Aku mempunyai seorang anak perempuan yang sangat cantik dan berakhlak mulia. Ia berkeinginan sekali untuk menikahi seorang mukmin yang sejati. Ia mempelajari agama dan tampaknya tertarik untuk masuk Islam. Kecintaan kepada iman sudah tumbuh dalam hatinya. Aku tersiksa, gelisah, dan terus menerus dilanda kerisauan memikirkan anak gadisku itu. Aku kuatir dia akan masuk Islam. Dan aku tahu tidak ada obat yang dapat menyembuhkan dia. Sampai satu saat anak perempuanku mendengar suara adzan itu. Ia bertanya, "Apa suara yang tidak enak ini? Suara ini mengganggu telingaku. Belum pernah dalam hidupku aku mendengar suara sejelek itu di tempat-tempat ibadat atau gereja." Saudara perempuannya menjawab, "Suara itu namanya adzan, panggilan untuk beribadat bagi orang-orang Islam. Adzan adalah ucapan utama dari seorang yang beriman." Ia hampir tidak mempercayainya. Dia bertanya kepadaku, "Bapak, apakah betul suara yang jelek itu adalah suara untuk memanggil orang sembahyang?" Ketika ia sudah diyakinkan bahwa betul suara itu adalah suara adzan, wajahnya berubah pucat pasi. Dalam hatinya tersimpan kebencian kepada Islam. Begitu aku menyaksikan perubahan itu, aku merasa dilepaskan dari segala kecemasan dan penderitaan. Tadi malam aku tidur dengan nyenyak. Dan kenikmatan serta kesenangan yang kuperoleh tidak lain karena suara adzan yang dikumandangkan muadzin itu."

Orang kafir itu melanjutkan, "Betapa besar rasa terima kasih saya padanya. Bawalah saya kepada muadzin itu. Aku akan memberikan seluruh hadiah ini." Ketika orang kafir itu bertemu dengan si muadzin itu, ia berkata, "Terimalah hadiah ini karena kau telah menjadi pelindung dan juru selamatku. Berkat kebaikan yang telah kau lakukan, kini aku terlepas dari penderitaan. Sekiranya aku memiliki kekayaan dan harta benda yang banyak, akan kuisi mulutmu dengan emas."

Jalaluddin Rumi mengajarkan kepada kita sebuah cerita yang berisi parodi atau sebuah sindiran yang sangat halus. Adzan yang dilantunkan dengan buruk dapat menghalangi orang untuk masuk Islam. Dari cerita di atas kita tahu keberagamaan yang dimaksudkan untuk membawa orang kepada agama berubah menjadi sesuatu yang menghalangi orang untuk memasuki agama.

Dengarlah nasihat Jalaluddin Rumi setelah ia bercerita tentang itu. "Keimanan kamu wahai muslim, hanyalah kemunafikan dan kepalsuan. Seperti ajakan tentang adzan itu, yang alih-alih membawa orang ke jalan yang lurus, malah mencegah orang dari jalan kebenaran. Betapa banyak penyesalan masuk ke dalam hatiku dan betapa banyaknya kekaguman karena iman dan ketulusan Bayazid Al-Bustami." (Bayazid adalah seorang tokoh sufi yang merintis jalan kesucian dan memberikan kepada Tuhan seluruh ketulusan imannya. -red)

Dengan itu sebetulnya Rumi ingin membedakan adanya dua macam keberagamaan atau dua macam kesalehan. Kesalehan yang pertama adalah kesalehan polesan. Orang meletakkan nilai pada segi-segi lahiriah. Orang meletakkan kemuliaan pada pelaksanaan secara harfiah terhadap teks-teks syariat. Seperti orang yang beradzan, ia merasa adzannya betul-betul melaksanakan perintah agama. Karena adzan itu, seperti disebutkan dalam hadis, adalah satu kewajiban yang mulia. Dengan berpegang pada teks-teks itu, maka orang berlomba-lomba untuk melakukan adzan. Tetapi karena yang mereka ambil hanya bungkusnya dan melupakan hakikatnya, yang terjadi adalah kebalikan dari apa yang dimaksudkan. Adzan dimaksudkan untuk memanggil orang untuk shalat tetapi dalam cerita di atas, adzan telah berubah menjadi suatu alat untuk menjauhkan orang dari shalat. Adzan tidak lagi menyeru orang untuk beribadah tapi adzan telah menjauhkan orang dari ibadah kepada Allah swt. Itulah keberagamaan jenis pertama, keberagaman muadzin bersuara buruk. Keberagamaan seseorang yang berpegang teguh kepada teks-teks syariat lalu melupakan maksud yang sebenarnya dari ajaran agama.

Keberagamaan yang kedua, adalah keberagamaan Bayazid Al-Bustami. Keberagamaan ini menekankan pentingnya memelihara lahiriah agama dengan tidak melupakan segi-segi batiniah dan tujuan-tujuan keberagamaan itu. Inilah keimanan yang tulus seperti keimanan Bayazid Al-Bustami. Tentang Bayazid, Rumi menulis puisi:

Setetes saja dari iman Bayazid masuk ke dalam lautan

Seluruh lautan akan tenggelam dalam tetesan iman

Jika sepercik api dari keimanan Bayazid jatuh di tengah hutan

Seluruh hutan akan hilang karena percikan iman

Sebuah bintang muncul dalam diri Muhammad

Sehingga seluruh kepercayaan Majusi dan Yahudi menjadi punah

Jalaluddin Rumi mengingatkan kepada kita bahwa keberagamaan yang tulus, betapa pun kecilnya, mampu mengubah dunia. Dan keberagamaan yang tidak tulus, betapa pun besarnya, tidak berdampak apa-apa kecuali hanya menjauhkan orang dari ajaran Islam yang sebenarnya.

Kita memerlukan Islam yang tampil dengan wajah yang ramah. Keterikatan pada bentuk-bentuk lahiriah yang terlalu setia dengan mengabaikan inti dari ajaran Islam bisa jadi akan menghambat ajakan kita pada orang-orang untuk kembali kepada Islam. Bukankah kita sering menemukan orang-orang yang berdakwah dan memanggil orang kepada Islam, tetapi yang mereka teriakan adalah hal-hal yang membuat orang makin menjauh dari Islam. Orang-orang yang datang untuk mencari ilmu dalam sebuah majlis taklim, disirami mereka dengan kecaman dan ejekan dengan suara-suara keras yang menjauhkan kecintaan mereka kepada agama.

Yang kita perlukan sekarang adalah suatu keberagamaan yang tulus, betapa pun kecilnya. Yang kita perlukan sekarang adalah satu tetes saja dari keimanan Bayazid Al-Bustami. Satu tetes yang tulus yang membawa orang kembali kepada Allah swt.

Marilah kita berusaha untuk mencari rahasia dari setiap ibadah yang kita lakukan. Tulisan ini saya akhiri dengan catatan singkat; keimanan yang sebenarnya adalah keimanan yang dapat menarik semua orang ke haribaan Islam. Apa pun bentuknya.

Seorang sahabat Imam Ali kw bernama Hammam, yang dikenal sebagai seorang ahli ibadah, suatu saat bertanya kepada Imam Ali, "Wahai Amiral Mukminin, gambarkanlah kepadaku sifat-sifat kaum Muttaqin, sehingga aku seolah-olah memandang kepada mereka."

Imam Ali terdiam sejenak. Ia segan memenuhi permintaan Hammam. Tapi setelah itu ia menjawab, "Wahai Hammam, bertakwalah kepada Allah dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan berbuat baik."

Mendengar jawaban Imam Ali kw, Hammam belum merasa puas. Ia mendesak sekali lagi sehingga Imam Ali kw memenuhi permintaannya itu. Setelah Imam mengucapkan pujian bagi Allah swt dan shalawat kepada Muhammad saw, ia berkata, "Sesungguhnya ketika Allah swt menciptakan makhluk-Nya, ia menciptakan mereka dalam keadaan tidak butuh akan ketaatan dan tidak cemas akan pembangkangan mereka. Maksiat apa pun yang dilakukan orang, takkan menimbulkan suatu mudharat bagi-Nya. Sebagaimana ketaatan orang kepada-Nya, juga takkan mendatangkan manfaat sedikit pun kepada-Nya. Dialah yang membagikan segala kebutuhan kehidupan mereka. Dia pula lah yang meletakkan masing-masing di antara mereka pada tempat di dunia ini. Maka orang-orang yang bertakwa, merekalah manusia-manusia bijak bestari. Kebenaran merupakan inti ucapan mereka. Kesederhanaan adalah pakaian mereka dan kerendahan hati mengiringi gerak-gerik mereka.

Mereka menundukkan pandangan terhadap segala yang diharamkan oleh Allah. Mereka gunakan pendengaran hanya untuk mendengarkan ilmu yang berguna. Jiwa mereka selalu dipenuhi ketenangan dalam menghadapi cobaan. Sama halnya ketika mereka menerima kenikmatan.

Dan sekiranya bukan kepastian ajal yang telah ditetapkan, niscaya ruh mereka tidak akan tinggal diam dalam jasad-jasad mereka walau hanya sekejap, baik disebabkan kerinduannya kepada pahala Allah atau ketakutannya akan hukuman Allah.

Begitu agungnya Sang Pencipta dalam hati mereka sehingga apa saja selain Dia, menjadi kecil dalam pandangannya. Begitu kuat keyakinan mereka tentang surga sehingga mereka merasakan kenikmatannya dan seolah-oleh telah melihatnya. Dan begitu kuat keyakinan mereka tentang neraka sehingga mereka merasakan azabnya seakan telah menyaksikannya.

Hati mereka selalu dipenuhi kekhusyuan. Tak pernah orang mengkhawatirkan suatu gangguan dari mereka. Tubuh-tubuh mereka kurus kering. Kebutuhan-kebutuhan mereka amat sedikit. Jiwa mereka terjauhkan dari segala yang kurang patut. (Mereka kurus kering karena terlalu seringnya berpuasa dan selalu prihatin karena besarnya tanggung jawab terhadap Allah dan makhluk-Nya.)

Mereka bersabar untuk beberapa saat dan memperoleh kesenangan abadi sebagai pengganti. Itulah perdagangan yang sangat menguntungkan dan Allah memudahkan untuk mereka. dunia menghendaki mereka namun mereka tidak menghendakinya. Ia menjadikan mereka sebagai tawanan, namun mereka berhasil menebus diri dan terlepas dari cengkeramannya.

Di malam hari, mereka merapatkan kaki menghabiskan sepanjang malamnya untuk bersujud kepada-Nya, seraya membaca bagian-bagian Al-Quran dengan memperindah bacaannya. Merawankan hati mereka dengannya seraya membangkitkan penawar bagi segala yang mereka derita. Setiap kali menjumpai ayat pemberi harapan, tertariklah hati mereka mendambakannya, seakan surga telah berada di hadapan mata. Dan bila melewati ayat pembawa ancaman, mereka hadapkan seluruh pendengaran hati kepadanya seakan desir jahanam dan gelegaknya bersemayam dalam dasar telinga mereka. mereka senantiasa membungkukkan punggung, meletakkan dahi dan telapak tangan, merapatkan lutut dan ujung kaki dengan tanah, memohon beriba agar dibebaskan dari murka-Nya.

Adapun di siang hari, merekalah orang-orang yang penuh dengan kemurahan hati. Berilmu, berbakti, dan bertakwa. Ketakutan kepada Allah membuat mereka kurus kering. Setiap orang yang memandang, pasti mengira mereka sedang sakit. Padahal, tiada satu penyakit yang mereka derita. Dikira akalnya tersentuh rasukan setan padahal mereka tersentuh urusan lain yang sangat besar, yakni ketakutan akan kemurkaan Allah dan kedahsyatan hari akhir.

Mereka tak pernah merasa senang dengan amal yang sedikit dan tak pernah puas dengan amal yang banyak. Mereka selalu mencurigai dirinya dan selalu mencemaskan amal pengabdian yang mereka kerjakan. Bila mereka memperoleh pujian, mereka menjadi takut akan apa yang dikatakan orang tentang mereka. Lalu mereka segera berkata, "Kami lebih mengerti akan diri kami sendiri dan Tuhan kami lebih mengerti akan hal itu daripada kami. Ya Allah, jangan kau hukum kami disebabkan oleh apa yang mereka katakan tentang diri kami. Jadikanlah kami lebih baik dari yang mereka dan ampunilah kami dari segala sesuatu yang mereka tak ketahui."

Tanda-tanda yang tampak dari diri mereka adalah keteguhan dalam beragama, ketegasan yang bercampur dengan kelunakan, keyakinan dalam keimanan, kecintaan yang utama kepada ilmu, kepandaian dalam keluhuran hati, kesederhanaan dalam kekayaan, kekhusyuan dalam ibadah, ketabahan dalam kekurangan, kesabaran dalam kesulitan, kesungguhan dalam mencari yang hal, kegesitan dalam kebenaran, dan menjaga diri dari segala sikap tamak.

Mereka mengerjakan amal-amal saleh namun hatinya tetap cemas. Sore hari dipenuhinya dengan syukur. Pagi hari dilewatinya dengan syukur. Semalaman dalam kekhawatiran dan keesokan harinya bergembira, khawatir akan akibat kelalaian dan gembira disebabkan karunia serta rahmat yang diperolehnya. Bila hati seorang dari mereka mengelak dari ketaatan kepada Allah, dan ia merasakan beban yang berat, mereka pun menolak memberi sesuatu yang menjadi keinginannya.

Kepuasan jiwanya terpusat pada sesuatu yang tak akan punah dan penolakannya tertuju pada sesuatu yang akan segera hilang. Baginya yang tak akan punah adalah akhirat dan yang akan segera hilang adalah dunia.

Dicampurkannya kemurahan hati dengan ilmu, disatukannya ucapan dengan perbuatan. Dekat cita-citanya, sedikit kesalahannya, khusyu hatinya, mudah terpuaskan jiwanya, sederhana makanannya, bersahaja urusannya, kukuh agamanya, terkendali nafsunya, bertahan emosinya. Kebaikannya selalu dapat diharapkan, gangguannya tak pernah dikhawatirkan.

Bila bersama orang-orang lalai, ia tak pernah lupa mengingat Tuhannya. Dan bila bersama orang-orang yang mengingat Tuhan, ia tak pernah lalai. Ia selalu berzikir dalam hatinya meskipun ia berada di tengah orang yang lalai atau pun mereka yang mengucapkan zikir meskipun hati mereka lalai.

Mereka memaafkan siapa pun yang menzaliminya, memberi siapa pun yang menolak memberinya, menghubungi siapa pun yang memutuskan hubungan dengannya. Mereka jauh dari perkataan keji, lemah lembut ucapannya, tak pernah terlihat kemungkarannya, dan selalu hadir kebaikannya. Dekat sekali kebaikannya dan jauh sekali keburukannya.

Mereka selalu tenang dalam walaupun dalam bencana yang mengguncang, sabar dalam menghadapi kesulitan, bersyukur dalam kemakmuran, pantang berbuat aniaya, meskipun terhadap mereka yang dibenci. Mereka tak bersedia berbuat dosa walaupun itu demi menyenangkan orang yang dicintainya. (Kecintaan kepada seseorang tak akan mendorongnya untuk berbuat maksiat.)

Mereka segera mengakui yang benar sebelum dihadapkan kepada kesaksian orang lain. Sekali-kali mereka tidak akan melalaikan segala sesuatu yang diamanatkan kepadanya, atau memanggil seseorang dengan julukan yang tidak disenangi, atau mendatangkan gangguan bagi tetangga, atau pun bergembira dengan bencana yang menimpa lawan. Mereka tidak akan masuk kepada kebatilan dan tidak akan keluar dari kebenaran.

Bila berdiam diri, mereka tidak merasa risau karenanya. Bila tertawa, suara mereka tak terdengar meninggi. Bila terlanggar haknya, ia tetap bersabar, sehingga Allahlah yang membalas baginya. Dirinya kelelahan menghadapi ulahnya sendiri sedangkan manusia lainnya tak pernah terganggu sedikit pun olehnya. Ia melelahkan dirinya sendiri demi akhiratnya dan menyelamatkan manusia sekitarnya dari gangguan dirinya.

Kejauhan dari siapa yang menjauhinya disebabkan oleh zuhud dan kebersihan jiwa. Kedekatannya pada siapa yang didekatinya disebabkan oleh kelembutan hati dan kasih sayangnya. Bukan karena keangkuhan dan pengagungan dirinya dan bukan karena kelicikan dan tipu muslihat…."

Ketika Imam Ali kw sampai di bagian ini, Hammam yang mendengarkan ucapan Imam Ali dengan khusyu tiba-tiba jatuh pingsan sehingga Imam Ali berkata, "Sungguh Demi Allah, sejak pertama aku sudah khawatir, hal ini akan menimpa atasnya." Lalu Imam bertanya, "Beginikah akibat yang ditimbulkan oleh nasihat-nasihat yang mendalam pada hati yang rawan?"

(Disadur dari Kitab Mutiara Nahjul Balaghah)

Alkisah, seorang petani berniat menjual sekarung gandum ke pasar. Ketika karung gandum itu dimuatkan ke punggung untanya, karung itu selalu terjatuh. Setelah berpikir keras, ia mengisi satu karung lagi dengan pasir. Ia merasa bahagia karena telah menemukan pemecahan yang menakjubkan. Dalam keadaan setimbang, kedua karung itu bertengger di punggung untanya. Satu karung berisi gandum dan satu lagi berisi pasir. Di pertengahan jalan, ia berjumpa dengan seseorang yang tampak miskin. Tubuhnya kurus, pakaiannya lusuh, dan tidak bersepatu. Ketika petani itu duduk bersamanya untuk beristirahat, ia mendapati ternyata orang miskin itu sangat bijak. Kawan miskin ini mengetahui banyak hal. Ia mengenal tokoh-tokoh besar, kota-kota besar, dan gagasan-gagasan besar. Tidak henti-hentinya petani itu takjub dengan kepintarannya.

Si fakir menanyakan apa yang dibawa oleh untanya. Petani menjawab, "Aku membawa satu karung berisi gandum dan satu karung berisi pasir." Orang bijak itu tertawa, "Mengapa tidak Anda bagi gandum itu dan menyimpannya dalam dua karung, masing-masing setengahnya. Dengan cara begitu, unta Anda akan berjalan lebih cepat dan Anda tidak membawa barang yang sia-sia." Petani makin kagum. Ia tidak pernah sampai pada pikiran secemerlang itu. Tiba-tiba ia menyadari keadaan si bijak. Petani itu menanyakan apakah ia punya pekerjaan. Ia melihat si bijak yang cerdas itu berpakaian lusuh, tidak bersepatu, dan bertubuh kurus. "Aku tidak punya sepatu, rumah, atau pekerjaan," jawab si bijak, "bahkan untuk makan malam pun, aku tidak tahu apakah aku bisa memperolehnya."

Kekaguman petani berubah menjadi keheranan yang luar biasa. "Lalu apa yang Anda peroleh dari semua pengetahuan dan kecerdasan Anda?" tanya petani. "Saya hanya memperoleh sakit kepala dan khayalan hampa," jawab si bijak.

Petani itu melepaskan tali untanya. Seraya beranjak pergi, Ia berkata, "Pergilah menjauh dariku! Aku kuatir kemalanganmu berpindah kepadaku. Aku bodoh karena mengisi sekarung gandum dan sekarung pasir untuk penyeimbang. Tapi ketololanku memberikan kehidupan kepadaku."

Cerita ini adalah cerita Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi. Kisah ini memberi pelajaran berharga untuk kita. Seperti orang bijak dalam cerita Rumi, kita berusaha mengumpulkan ilmu pengetahuan, tapi pengetahuan kita tidak memberi manfaat dalam kehidupan. Salah satu bencana yang diderita manusia modern adalah mereka mempelajari satu bagian dari ilmu pengetahuan terus menerus sehingga mereka mengetahui banyak hal tentang sesuatu yang sedikit. They know more and more about less and less.

Ada orang yang menghabiskan separuh dari usianya hanya untuk mempelajari cara bagaimana membuat jembatan gigi. Ada juga yang memperoleh gelar doktor hanya karena mengamati satu peristiwa kecil dari seluruh alam semesta ini. Makin lama, pengetahuan yang kita pelajari menyebabkan kita kehilangan pandangan tentang keseluruhan.

Dalam kisah Rumi, orang-orang yang belajar ilmu yang banyak tapi tidak menemukan makna kehidupan, sama seperti si pintar di pinggir jalan. Ia bisa memberikan nasihat kepada petani tentang pemecahan hal yang sepele tapi ia tidak mampu memberikan jawaban atas masalah kehidupan yang dihadapinya.

Banyak orang belajar agama. Mereka menghabiskan waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu agama. Tidak jarang mereka terjebak di dalam ilmu-ilmu yang spesifik sehingga ilmunya menyebabkan dia tidak menjadi lebih dekat dengan Allah swt. Ada yang sibuk mempelajari cara-cara shalat dan memberikan perhatian yang amat besar untuk itu sehingga ia menilai orang-orang di sekitarnya dari cara shalat mereka. Padahal agama bukan hanya mengajarkan cara-cara shalat. Agama adalah seluruh kehidupan ini.

Ada juga orang yang tenggelam di dalam keasyikannya mempelajari ilmu tertentu dan dia kehilangan cara untuk menghadapi kehidupan yang sebenarnya. Dia hidup di dunia impian. Boleh jadi mereka memelihara khayalan-khayalan hampa mereka dalam kesendirian, tapi kemudian mereka dikecewakan oleh kenyataan. Orang-orang seperti itu adalah si bijak dalam cerita Rumi yang terkatung-katung di pinggir jalan, tanpa sepatu dan pekerjaan. Ia memiliki banyak pengetahuan tapi ia kehilangan kebijaksanaan. Ia memiliki knowledge tapi tak memiliki wisdom.

Nabi Muhammad saw bersabda: Ilmu itu ada dua macam. Ada ilmu yang hanya berada pada lidah. Itulah ilmu yang bisa kita pakai untuk berdebat dengan sesama manusia. Ada juga ilmu yang berada pada hati. Dan itulah ilmu yang bermanfaat. Tasawuf ingin membawa Anda pada ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang terbit dari ketulusan hati nurani kita.

Rumi mengakhiri cerita si bijak dengan sebuah puisi indah. Ia memberikan nasihat kepada kita semua:

Jika kau ingin derita benar-benar hilang dari hidupmu

Berjuanglah untuk melepaskan kebijakan dari kepalamu

Kebijakan yang lahir dari tabiat insani

Tak menarik kamu lebih dari khayalan

Karena kebijakan itu tidak mendapat berkat

Yang mengalir dari cahaya kemuliaan Tuhan

Pengetahuanmu tentang dunia

Hanya memberikan dugaan dan keraguan

Pengetahuanmu tentang Dia, kebijakan ruhani sejati

Akan membuatmu naik ke atas dunia ini

Para ilmuwan masa kini telah menghempaskan semua pengorbanan diri dan kerendahan hati

Mereka sembunyikan hati dalam kecerdikan dan permainan bahasa

Raja sejati adalah dia yang menguasai pikirannya

Bukan dia yang pikirannya menguasai dunia dan dirinya

Seorang ilmuwan sejati adalah seorang yang menerbitkan kebijakan-kebijakan lewat ketulusan hatinya. Nabi saw bersabda: Barang siapa mengikhlaskan hatinya selama empat puluh hari, kebijakan akan memancar dari mulutnya.

Di dalam tasawuf kita belajar bahwa di samping ilmu yang kita peroleh secara empiris atau melalui pengajaran guru-guru kita, ada juga ilmu yang Allah berikan langsung kepada mereka yang memberikan hati mereka sepenuhnya untuk Tuhan. Mereka yang mengosongkan dari hatinya segala apa pun selain Tuhan. Karena itu, di dalam salah satu hadis Nabi saw yang terkenal, Nabi menyebutkan: Di dunia ini ada sekelompok hamba Allah yang menjadi lemari-lemari penyimpan kebijakan Tuhan. Orang-orang itu adalah orang-orang yang mengikhlaskan hati setulus-tulusnya untuk Allah swt. Merekalah yang memperoleh pengetahuan tidak melalui otak-atik otak, tapi melalui pembersihan hati. Ke sanalah kita semua berharap untuk menuju.